Pengalaman Menggunakan Pelayanan BPJS Kesehatan

Wednesday, November 15, 2017




Awal tahun 2017, tepat di bulan Februari sekali lagi saya harus menyerahkan diri berada di ruang perawatan Rumah Sakit.  Lelah sebenarnya.  Mengingat memang selama satu dekade terakhir ini, saya sudah berkali-kali harus “kencan” dengan dokter.  Mulai dari laparoscopy karena endometriosis (yang ini sampai 2 kali pula), operasi caesar, kuret dan yang terakhir transfusi darah.

Saya memang memiliki riwayat ketidakseimbangan hormon.  Ini juga yang menyebabkan kista endometriosis tumbuh berulang dalam rahim sehingga harus diangkat.  Bahkan saat saya hamil Prema 8 tahun lalu,  endometriosis ini juga ikut hadir bersama gumpalan kecil calon janin.  Adalah anugerah tak terhingga karena Prema bisa tumbuh sehat dan kuat mengalahkan perkembangan endometriosis ini sehingga terlahir sehat, lewat proses sectio.

Dengan riwayat kesehatan seperti ini, otomatis ada biaya-biaya yang mengikuti.  Dan jujur saja, jumlahnya tidak sedikit.  Kalau ditotalin, rasanya kok yo bikin nyesek juga ya.  Satu hal yang wajib banget saya syukuri adalah ketersediaan asuransi yang sangat-sangat membantu pengeluaran ini.  Zaman saya masih kerja dulu, laparoscopy pertama ditanggung oleh asuransi kantor.  Setelah resign, urusan kesehatan saya selanjutnya  mengikuti asuransi dari kantor suami, yang  mana sejak tahun 2016 terdiri dari dua jenis perlindungan yaitu menggunakan jaminan kantor dan BPJS.  Artinya, bila karyawan/keluarga karyawan ada yang harus rawat inap, sebisa mungkin gunakan BPJS terlebih dahulu.  Dalam kondisi emergency yang tidak ditanggung oleh BPJS, barulah menggunakan fasilitas jaminan kantor.

Setelah sebelum-sebelumnya setiap kali dirawat saya menggunakan jaminan kantor, perawatan di awal tahun ini, saat harus transfusi darah karena HB yang drop akibat hyperplasia, saya mencoba menggunakan fasilitas BPJS.  Seperti apa prosesnya, ikuti yuk.


Prosedur Pelayanan BPJS


Namanya program pelayanan kesehatan publik, pastinya ada prosedur yang harus diikuti.  Gak bisa serta merta datang ke Rumah Sakit, ambil antrian dokter lalu duduk manis di ruang tunggu layaknya pasien mandiri.  Ini proses yang saya jalani :

1.      Faskes tingkat I
Untuk pasien dengan kondisi non emergency, wajib terlebih dahulu konsultasi di Faskes tingkat 1.  Bisa Puskesmas atau Klinik.  Untuk menentukan faskes tingkat 1 ini, sudah sejak awal pendaftaran BPJS.  Jadi kita yang mengajukan nama faskes terdekat.  Saya menggunakan klinik  dengan pertimbangan, antrian Klinik lebih sedikit daripada Puskesmas.  Selain itu Klinik ini memang lebih dekat dari rumah dibandingkan dengan Puskesmas.
Di faskes, kita akan terlebih dahulu ditangani oleh dokter.  Bila faskes I tak bisa menangani, akan dibuatkan surat rujukan ke RS.  Pengalaman saya sih, disuruh memilih sendiri mau ke RS mana.  Waktu itu saya memilih ke Hermina, karena memang ini yang terdekat dari rumah dan saya sudah punya rekam medis disana dari sakit-sakit sebelumnya.
Konsultasi awal di Faskes Tk.1

 2.      Daftar antrian di bagian BPJS Rumah Sakit
Di RS,  kita akan diarahkan ke ruang/loket khusus BPJS.  Berbekal surat rujukan dan kartu BPJS, dari loket ini akan diterbitkan Surat Eligibilitas Peserta (SEP) yang menandakan pasien benar peserta BPJS dan layak untuk mendapatkan tindakan lanjutan.
Oh ya, untuk diketahui, peserta BPJS hanya boleh mengajukan pemeriksaan dengan satu dokter spesialis saja dalam satu hari.  Jadi kalau memang penyakitnya membutuhkan konsultasi dengan dua atau lebih dokter spesialis, itu artinya harus kembali lagi keesokan harinya atau sesuai waktu yang ditentukan. 
Perlu rujukan dari faskes 1 lagi? TIDAK.  Biasanya rujukan akan diberikan oleh dokter pemeriksa pertama.  Dalam kasusu saya tempo hari, dokter kandungan memberi rekomendasi untuk ke dokter penyakit dalam yang akan menangani transfusi darah, sehingga saya tak perlu kembali ke Klinik lagi.

3.      Menuju ruang dokter
Setelah mendapatkan SEP, kita bisa langsung menuju poli untuk antri dokter.  Karena masalah saya rahim, jadi ya saya antri di Poli Kandungan.  Dan ya memang harus banyak sabar, saingannya sama ibu-ibu hamil booo. 
Kabar baiknya, nomor antrian disini bukan berdasarkan status pasien BPJS, Mandiri atau asuransi lainnya.  Nomor antrian sesuai denngan nomor kedatangan.  Jadi gak ada ceritanya pasien BPJS ditaro di urutan terakhir ya.
Dari sini, nantinya akan direkomendasikan ke laboratarium, rekam jantung, dll yang memang dibutuhkan sesuai dengan jenis penyakitnya.  Untuk kemudian rekomendasi rawat inap/jalan.

4.      Rawat inap sesuai kelas
Saya kebetulan mendapat kamar kelas 1, sesuai yang tertera di kartu.  Untuk rawat inap ini sendiri, pintu masuknya ada 2 yaitu lewat poli (seperti saya) dan ada yang lewat UGD (kasus emergency, tak perlu rujukan faskes 1).  Ada beberapa berkas yang harus ditandatangi disini, biasanya perawat akan membantu menyiapkan berkas-berkasnya.  Selama rawat inap, RS akan menginformasikan setiap jenis obat apakah ditanggung BPJS atau tidak.  Untuk yang tidak ditanggung BPJS, tentunya akan meminta persetujuan pasien terlebih dahulu.
 
Makanan Pasien tetap memenuhi syarat gizi

5.      Kasir dan Apotek
Usai rawat inap, perawat akan memberi detail rincian pengobatan beserta kwitansi dan resep yang harus ditebus.  Untuk ke kasir dan apotek, antrian dan prosedur sama dengan pasien non BPJS, sesuai nomor urut kedatangan.  Bedanya, saat di kasir kita hanya perlu menandatangani berkas dengan menunjukkan kartu BPJS, sedangkan pasien umum melakukan pembayaran.  Untuk jenis obat-obatan yang tidak di cover BPJS, akan dibuatkan kwitansi tersendiri.  

Proses pembayaran di kasir

Apakah Semua Jenis Penyakit/Obat ditanggung BPJS?


Untuk kasus saya yang harus menjalani transfusi darah, sejak awal petugas administrasi sudah menyampaikan bahwa jatah BPJS hanya 1 kantung darah saja.  Sehingga bila ternyata membutuhkan lebih, saya harus membayar sendiri.

Ternyata, saya membutuhkan dua kantung darah untuk menaikkan Hb agar kembali normal.  Jadi ya, memang  ada biaya tambahan yang saya keluarkan.  Dan ini pastinya dengan persetujuan dan tanda tangan ya, jadi gak serta merta pihak RS memberikannya ke pasien.  Semua sudah diinfokan sejak awal.  

Pengalaman saya, di Hermina Bogor, pelayanan BPJS cukup rapi dan memuaskan.  Ruang administrasi BPJS (point 2) berada di ruang terpisah dengan pasien non BPJS, sehingga tak terlihat antrian membludak dan ruwet.   Yang membedakan dari pasien umum adalah kita tak bisa memilih mau ke dokter siapa, jadi ya sesuai dengan ketersediaan dokter pada saat kedatangan.  Kecuali untuk kontrol lanjutan atau atas rekomendasi dokter sebelumnya.

Oh ya, memang benar ada kuota untuk pelayanan pasien BPJS setiap harinya di masing-masing poli.  Dan ini berbeda di setiap RS.  Sehingga jangan kaget, kalau misalnya saat datang, ternyata kuota sudah penuh dan kita jadi gak bisa langsung mendapat pelayanan.  Saya pernah kok ngalamin.  Pasca rawat inap, saya direkomendasikan untuk kontrol pada hari tertentu, tiba di RS kesorean, apa daya kuota pasien untuk dokter yang bersangkutan sudah penuh, mau tak mau balik badan deh, kembali keesokan harinya. 

Jadi, meskipun agak panjang prosedurnya, kalau kita mau mengikuti proses dengan baik, sebenarnya menggunakan BPJS ini nyaman-nyaman saja kok.  Iya sih, pengalaman tiap orang berbeda.  Tingkat emergency setiap penyakit juga berbeda.  Jujur saja, saya pribadi tidak merasakan wajah jutek perawat/petugas medis lainnya.  Semua tetap ramah dan melayani dengan sabar.  Tetap positif thinking dan saling menghargai.  

Semoga kita semua diberi kesehatan ya

Salam Sehat

Tulisan ini merupakan bagian dari #KEBBloggingCollab dari Grup Butet Manurung bertema “Pengalaman Menggunakan BPJS” dengan trigger post di Web KEB yang ditulis oleh mbak Edelyn pemilik www.everonia.com  berjudul “Melahirkan Caesar dengan BPJS dariLuar Kota”


8 comments:

  1. BPJS membantu sekali ya, mba Arni, sehat terus yaaa

    ReplyDelete
  2. Iya bener mbak, yang penting ikutin prosedurnya. Ibu mertua juga pakai BPJS, kebantu lumayan biayanya

    ReplyDelete
  3. Pakai BPJS kuncinya sabaaar, karena memang ada prosedur yang harus diikuti supaya prosesnya juga lancar. Aku pas lahiran juga pakai BPJS gratis, ada biaya tambahan memang tapi gak banyak karena gak ditanggung urusan tersebut.

    ReplyDelete
  4. Semoga sehat selalu mbak Arni... baca tulisan mbak Arni ini mengingatkanku soal nulis tentang perpindahan dari Askes ke BPJS untuk pensiunan.... Habis bantuin Bapak soalnya, hihihi

    ReplyDelete
  5. lengkap mbak ulasannya, semoga yang membaca jadi terbantu. lekas sembuh juga buat mbak arni ya. aku bpjs diurus kantor suami

    ReplyDelete
  6. aku belum punya BPJS --" tapi untuk asuransi swasta sudah ada mbak.

    ReplyDelete
  7. Aku juga pakai BPJS. Beberapa kali rawat jalan, semua baik2 saja. Lancar dan belum pernah merasakan ketidaknyamanan dengan pelayanan. Tfs Mbak Arni. Sehat selalu ya 😊

    ReplyDelete
  8. Masalah hormon ternyata seperti itu to mbak, baru tahu...
    Aku sih berharapnya tdk pernah pakai BPJS (sakit) tapi tengkyu infonya.
    BTW kalau perawatan gigi pakai BPJS bisa gak ya di Hermina? :D

    ReplyDelete