Yuk, Asah Kepekaan Sosial Kita ; Sepenggal Harap dari Kasus Bunuh Diri

Monday, March 20, 2017


Minggu kemarin media sosial diramaikan dengan video seorang bapak yang bunuh diri secara live.  Jujur saja saya tidak berani menonton siaran live itu.  Cukup membaca dari media massa  dan cerita teman-teman.  Meski tak menonton videonya, tapi tetap saja saya susah menghindar ketika beberapa kontak ternyata justru membagikannya di medsos lantas melintas di timeline saya, sehingga saya sempat menyimak sekilas beberapa komen (dan foto) saat kejadian itu.

Kenapa saya kemudian tergelitik menulis ini, jujur saja saya sedih melihat bagaimana cara (kita) menanggapi kejadian ini.  Saya sedih mengetahui bahwa saat sedang live bunuh diri, ternyata banyak yang nyinyir, mengata-ngatai, menyalahkan  bahkan mentertawakan bapak itu.  Pun tak sedikit yang ternyata (seperti) menikmati tontonan itu layaknya film.  Ya ampuuun ada apa dengan kita? Kemana nurani kita?

“baru juga ditinggal istri udah mau bunuh diri aja!’
“Halagh ini mah nyari sensasi aja!’
“Lemah amat sih jadi laki!”

Dan segala derivasi komennya.  Bahkan ada lho (katanya) yang nyuruh segera ambil tali.  Entah apa maksudnya.  Kok yo malah mendukung si bapak untuk melanjutkan niatnya.

Padahal, (katanya) sebelum bapak itu memutuskan mengakhiri hidupnya, dia juga sempat live untuk curhat  bahkan secara gamblang mneyampaikan rencana bunuh diri dan latar belakangnya. Artinya, sebagian dari lingkaran pertemanannya di facebook menyadari bahwa ada yang salah dengan mentalnya.  Sampai disini, saya kira seharusnya tindakan bunuh diri itu bisa dicegah.  Minimal oleh kawan terdekat, baik dekat hubungan maupun lokasi.  Terlepas dari soal bahwa kematian adalah takdir ya.  Mungkin bapak itu butuh curhat, butuh masukan, rangkulan dan dukungan.  Pun perlu diingatkan bahwa ada 5 anak yang begitu mencintai dia dan menjadi tanggung jawabnya.  Ah seandainya saja…..

Beberapa dari kita pernah merasa berada di titik terendah dalam hidup.  Depresi, merasa tak berguna, putus asa dan seterusnya menjadi makanan sehari-hari yang bisa saja membuat kehilangan akal sehat dan berpikir pendek untuk mengakhiri hidup. Pada titik ini, yang dibutuhkan adalah dukungan bukan tudingan.  Yang dibutuhkan adalah bahu yang lapang untuk sandaran, bukan pukulan menyalahkan.  Setidaknya, alih-alih (sok) menasehati apalagi sampai bawa-bawa Tuhan dan agama, mari belajar untuk menjadi pendengar yang baik, karena itulah yang dibutuhkan.  Mengeluarkan uneg-uneg, membuka lapisan luka untuk kemudian mengobatinya perlahan. Jadi mari menahan diri untuk tak berkomentar yang menyakiti atau malah membuat situasi makin ruwet.

Tumbuhkan Cinta Mari Asah Peduli


Oke. Udah kepanjangan bahas kasusnya.  Bukan mau mengeksploitasi tapi jujur saya sedih dengan fenomena ini.  Bukankah jauh lebih baik jika kita menuliskan kalimat positif, dukungan dan memberi semangat jika bertemu dengan hal-hal seperti ini.  Bukan tak mungkin kasus ini akan berulang atau malah menginspirasi orang lain.  Duh semoga saja tidak.  Jujur,  saya berharap ini adalah yang pertama dan terakhir. Ke depannya mari kita bergandeng tangan, mengasah kepekaan terhadap hal-hal disekitar.  Gangguan mental dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.  Beri dukungan positif.  

Well, saya memang bukan psikolog.  Bukan pula ahli kejiwaan.  Tapi inilah harapan saya :

1.       Depresi bukanlah sesuatu yang layak ditertawakan, apalagi ketika sudah begitu berat hingga berhubungan dengan kehilangan nyawa.  Selayaknya kita prihatin dan malu, apabila hal ini sampai terjadi (lagi).  

2.       Depresi tak hanya pada orang dewasa.  Ingat kasus beberapa waktu lalu dimana seorang anak juga ditemukan bunuh diri? Meski tak tahu apa alasannya, tapi pasti ada pemicu dalam jiwanya yang membuat dia mengambil keputusan itu.  Yuk, ayah ibu, bangun kedekatan dengan anak-anak kita.  Perhatikan kebiasaan-kebiasaan mereka.  Ajak bicara dari hati ke hati jika terlihat ada yang berubah. Mari bersama ciptakan rumah dan keluarga adalah tempat ternyaman untuk pulang dan bahagia.

3.        Yuk, lebih peka terhadap sekitar. Saat ini dunia maya begitu riuh, hingga kadang kita lupa bahwa kehidupan sesungguhnya adalah di dunia nyata. Kita semua punya tanggung jawab atas apa yang terjadi di sekitar.  Jangan menutup mata dan hati dengan ketidakpedulian. 

4.       Menahan diri untuk tak memposting, membagikan ataupun berkomentar hal-hal yang mengandung konten negatif, termasuk nyinyir dan sejenisnya.  Percayalah, seperti hukum energi yang menarik benda-benda dengan muatan yang sama, begitupun diri kita.  Apa kita lemparkan maka itu juga yang akan kembali pada kita.  

5.       Tulisan, gaya bahasa, cara menanggapi sesuatu adalah cerminan pribadi kita.  Ingin dikenal sebagai pribadi seperti apa, kitalah yang menentukan.  Saya yakin tak ada orang yang ingin hidup dalam kepalsuan.  Karenanya mari bersama menjaga setiap pikir, kata dan laku kita.

Menulis adalah salah satu cara saya untuk mengingatkan diri sendiri.  Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang naik kelas dan lebih peka.  Menumbuhkan cinta agar saling peduli.  Untuk kemanusiaan. Untuk Indonesia yang lebih baik.  


Salam

EmakCihuy



25 comments:

  1. Saking g ada teman bicara ya mbak si bapak ini kasian.

    Aq jg prihatin sama respon2 yg muncul dan keingintahuan besar netizen menyaksikan sakaratul mautnya si bapak.
    Sebaliknya aq sama sekali ga penasaran karena sering lihat hal2 tersebut dan itu menyakitkan ya mbak....
    Walau ga kenal sama sekali siapa yang sedang dicabut nyawanya...

    ReplyDelete
  2. Sejujurnya aku gak tau pasti seperti apa gejolak jiwa si bapak hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi aku prihatin banget sama cara netizen merespon kejadian ini, entah bagaiman menurutku itu (agak) keterlaluan dan kurang berempati

    Yang aku takitkan berikutnya adalah kejadian ini malah jadi contoh dan menginspirasi orang lain untuk melaukan hal yang sama, semoga saja gak sampai begitu

    ReplyDelete
  3. sedih ya mbak, smg bisa diampuni dosa2nya aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Sedih banget
      Entah apa yang membuat bapak itu menjadi begitu nekad,tapi yg paling sedih itu ya dia ninggalin 5 anak, kasian anak2nya gimana kedepan huhuhu

      Delete
  4. Waduh mba, aku kok ga tau ya soal bunuh diri live ini. Kyknya g ada msk ke timeline ku.. Tp ga pgn liat juga sih :(. Kok kasian bener kayaknya.. Apa g ada lg keluarga ato anak yg bisa dijadiin tempat dia curhat yaa.. Gmn itu kluarganya saat melihat video si bapak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukurlah mbak, aman dari video ini timelinenya
      Aku sampe skip berkali2 karena beberapa kontakku ngeshare, sebelum akhirnya (kayaknya) diblok sama FB, tapi ya gitu udah kadung beredar

      Anaknya 5, udah gede2, kasian anak-anak ini hiks

      Delete
  5. Setuju Ar. Kalau menurutku, meski pastinya gak semudah itu, begitu tahu ada temannya mau bunuh diri, coba segera hubungi org yg lokasinya terdekat untuk mencegah agar teman tersebut gak jadi bundir. Atau minimal telepon org itu, ajak ngobrol sampai lupa niat awalnya. Hal kedua, di sana ada hotline utk org mau bunuh diri gak? Kalau di sini ada, tujuannya utk penderita depresi yg berniat bundir tapi gak ada orang yg bisa diajak bicara. Mungkin aja kan, apalagi di sini sangat individualistis. Mungkin di Indonesia pun sudah mengarah ke situ, semakin individualistis. Poin yag tentang anak bundir, nah itu juga, ortu jangan pernah kelewat sibuk sampai gak sempat ngobrol dengan anak. Tanyakan juga perasaan anak tentang apa yang mereka alami sehari-hari. Terutama untuk anak cowok, jangan bebani mereka dengan didikan untuk "tough", atau "gak boleh nangis!", karena anak laki-laki juga punya perasaan. Justru malah harus sering dipancing agar mereka mau curhat ke ortu, supaya gak memendam perasaannya seorang diri, atau curhat ke orang yang salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak
      Pelajaran banget ini untuk kita jadi orang tua bagaimana membangun kedekatan dengan anak supaya mereka mau terbuka ketika ada masalah. Bagaimana mereka bisa jujur pada orang tua alih-alih mencari penyelesaian diluar

      Pun memang kita semua harus lebih saling peduli pada sekitar. Yang sayangnya makin kesini sifat ini makin menipis hiks

      Delete
  6. Saya gak tertarik melihat videonya. Selain sadar diri kalau saya memang penakut, juga memang dirasa gak perlu nonton. Tapi saya juga sempat membaca komen-komen beberapa orang. Saya suka sedih kalau baca komen yang asal jeplak kayak gitu. Harusnya sebelum komen biasakan untuk berpikir ada di posisi pihak lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Saya jujur sempat liat tapi baru awalnya aja udah langsung skip. Gak berani. Takut kebayang-bayang

      Tapi memang komen2nya duh bikin ngelus dada banget. Bingung saya kemana empati kita sesama manusia hiks

      Delete
  7. Sempet liat juga komen-komen kaya gitu di IG. Kaget sih. Kok bisa aja kepikiran ngenyek/ngetawain/etc di kejadian kaya gini. Perlu revolusi mental dan empati nih pada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itulah, aku juga gak ngerti kenapa orang bisa ngebully orang lain yang jelas2 sedang mengalami gangguan mental. Yang sedang gak bisa berpikir jernih dan berada diujung maut. Hiks

      Delete
  8. prihatin Mbak,
    kadang yah, aku kalau down banget juga butuh buat di dengar saja, enggak pakai dinasehati

    yang anehnya, nonton live bunuh diri kok cuma ditonton, kenapa enggak berusaha menyelamatkan atau lapor polisi, sich

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah maksudku. Kok bisa ya orang nonton doang. Padahal bosa telp polisi atau apalah buat menyelamatkan nyawa si bapak

      Bener banget. Gak semua orang curhat itu butuh nasehat panjang lebar, kadang memang hanya ingin ngeluarin uneg2 aja, butuh didengar butuh bersandar

      Delete
  9. "Tulisan, gaya bahasa, cara menanggapi sesuatu adalah cerminan pribadi kita. Ingin dikenal sebagai pribadi seperti apa, kitalah yang menentukan. Saya yakin tak ada orang yang ingin hidup dalam kepalsuan. Karenanya mari bersama menjaga setiap pikir, kata dan laku kita."

    Setuju dengan poin yang kelima ini. BE YOURSELF. :)

    ReplyDelete
  10. Aku juga ga berani liat videonya mba... Emang empati orang orang jaman sekarang udah berkurang jauh, banyak yg mikir asal ga ganggu hidupku, ga peduli orang lain mau ngapain...

    ReplyDelete
  11. Hai mb, aku juga termasuk orang yg nggak berani lihat itu video, karena ya ampun nggak tega.
    Aku sedih sekaligus prihatin jg sih sama yg komen2 dan ngatain sih lelaki yg bunuh diri. Harusnya seperti yg mbak bilang, tahan diri, kalaupun berkomentar harus pakai gaya bahasa yg santun

    ReplyDelete
  12. Akupun gak berani lihat video-nya mbak.
    Soal depresi, saat bujang aku pernah mengalami dn nyaris mau motong urat nadi. Bener, saat deprsi ada tekanan mental yg dasyat dan bikin jiwa limbung huhuhu. Kalai inget, ngapain juga ngelakuin hal bodoh itu. Tapi emang gak ada yg bisa diajak curhat sih.

    ReplyDelete
  13. Tak ada beban tanpa pundak. Semoga kita bisa menjadi pundak buat saudara sahabat2..

    ReplyDelete
  14. Baru tau beliau sempat curhat, tapi malah dinyinyirin. Mungkin memang sedang nggak ada tempat curhat yang nyata jadi via medsos. Huhu.
    Lagian, ketahanan orang terhadap depresi beda-beda. Jangan sampai deh khilaf ngatai orang lain cemen.

    ReplyDelete
  15. Saya pun ga berani melihat videonya mba,
    Saya juga ga tega untuk tahu bagaimana keadaan istri dan anak-anaknya. Moga mereka diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi ini semua.
    Sampai sekarang pun ga habis pikir dengan para netizen yang mudahnya berkomentar tanpa menimbang perasaab orang lain..

    ReplyDelete
  16. Aku juga ga berani Mba liat videonya, ga tega jugaa melihat orang sakaratul maut karena depresi.
    Iya prihatin juga sama netizen yang komentar negatif, kita kan ga tau seberapa berat beban si bapak :-(

    ReplyDelete
  17. iya mbak, aku juga sedih banget ndenger info tersebut

    malah dimaki-maki
    entah tak berharga lagi hati manusia mbak
    rasa peka nggak lagi ada mbak

    ReplyDelete
  18. aku belum lihat sih yang ini, tapi emang banyak bersliweran kabarnya distatus temen2 fb.
    duh medsos sekarang tambah ngeri aja ya :(

    ReplyDelete
  19. emak cihuy tulisannya beneran cihuy euyy....

    ReplyDelete