Selamat Ulang Tahun ; Selalu Ada Cinta Untukmu, Nak!

Saturday, March 4, 2017



Medio Agustus 2008

Tangis saya pecah begitu keluar dari ruang praktik dokter.  Saya ingat betul, malam itu rasanya jadi malam paling gelap dan suram.   Pelukan suami yang harusnya menenangkan malah membuat tangis saya makin menjadi-jadi.  Dan jujur, sampai hari ini, vonis dokter itu masih terngiang-ngiang di telinga saya

“Hmm… hasilnya negatif.  Salurannya tertutup.  Sebaiknya pertimbangkan untuk program bayi tabung saja.  Karena untuk proses normal kemungkinannya kecil sekali. Apalagi ovarium yang masih bagus hanya sebelah kiri”

Deg. Jantung saya rasanya berhenti berdetak.  Saya baru saja menjalani operasi laparoscopy karena endometriosis yang berkembang tak normal dalam ovarium. Endometriosis sebesar 13 cm yang pecah dalam rahim dan merusak ovarium kanan saya.  Menjalani terapi suntik selama 6 bulan berturut-turut. Bukan hanya biaya yang keluar sudah sangat banyak, waktu dan energi kami juga rasanya terkuras.  Saya lelah.  Lalu saat dokter menyarankan untuk tes HSG (histerosalpingografi) yaitu tes untuk mengetahui kondisi saluran sel telur apakah bisa dilalui oleh sperma untuk pembuahan, apakah terjadi perlekatan/penyumbatan atau tidak, dokter kemudian menyatakan seperti itu.  Rasanya dunia saya mendadak gelap.  

Berhari-hari setelah itu saya tak nyaman. Kepikiran terus.  Lalu kami memutuskan mencari second opinion.  Penuh harap, saya mengetuk ruang dokter yang menangani saya saat laparoscopy, dokter W di salah satu RSIA di Jakarta.  Dari dokter kedua ini saya mendapatkan suntikan semangat.  Melihat foto-foto laparoscopy dan hasil USG saya, dokter W meyakinkan saya bahwa hasil HSG itu bukan jaminan.  Tak ada yang tak mungkin.  Beliau kemudian menganjurkan untuk melakukan terapi lanjutan untuk program kehamilan sekaligus membuatkan kami jadwal untuk berhubungan intim.

Meski secercah harap muncul namun stress berikutnya juga menyertai.  Berhubungan intim pake jadwal.  Oh percayalah, ini sungguh tak nyaman.  Tanggal sekian wajib. Tanggal sekian gak boleh. Hohoho yang ada saya (dan tentu saja suami) serasa jadi robot.  Sampai akhirnya kami memutuskan untuk “istirahat” bertemu dengan dokter.  Jujur saja saya lelah dan trauma setiap kali masuk ruang dokter.  Hampir setahun penuh tak ada satu bulanpun yang terlewati tanpa masuk ruang putih itu.

Berusaha dan Berdoa

Kami memutuskan untuk santai.  Berusaha secara alami sembari berdoa.  Saya juga mulai berdamai dengan diri sendiri untuk tak terlalu mengindahkan pertanyaan kawan, kerabat, tetangga soal “kapan punya anak?” atau “belum hamil?” atau “ada masalah dengan kandungannya?’” dan  segala derivasinya.  Menjawab dengan senyum sekaligus mohon doa dari sang penanya.  Pelan-pelan saya berangsur tenang dan menyerahkan semua keputusan pada sang pemilik jiwa.  Kepada-Nya saya memanjatkan doa, semoga suatu hari diberi kepercayaan memelihara kehidupan didalam rahim.

Kami memutuskan untuk bahagia.  Berlibur selagi bisa.  Menikmati saat-saat berdua seperti masa pacaran.  Beberapa kali mengajukan cuti bersama agar bisa traveling bareng.  Mengkonsumsi makanan sehat. Sampai akhirnya, suatu hari dibulan Juni 2009, saya menyadari saya telat datang bulan.  Diam-diam melakukan test kehamilan, test pertama negatif. Oke, saya sudah siap meski jujur ada rasa kecewa.  Hingga 3 hari berikutnya, menstruasi belum juga datang.  Kembali membeli testpack, negatif lagi.  “Ah sudahlah jangan terlalu berharap.”  Hingga minggu berikutnya, si tamu bulanan belum hadir juga, coba test lagi.  Bergaris dua namun satu garis terlihat samar.  Tak mau gegabah dan larut dalam euphoria, kami memutuskan untuk ke dokter untuk memastikan kondisinya.

Ternyata saya memang positif hamil.  Meski demikian, USG menunjukkan calon janin masih seperti titik kecil sementara tepat disisinya tampak endometriosis yang mulai tumbuh lagi.  Yup, karena menstruasi yang mulai teratur lagi pasca laparoscopy, artinya endometriosisnya seolah mendapat “energy baru” untuk kembali berkembang.  Satu-satunya cara menghentikan adalah menjaga janin dalam kandungan saya tetap kuat, berkembang sehingga endometriosis berhenti tumbuh dengan sendirinya.
Masa kehamilan yang penuh drama

Balada Kehamilan

Mual dan muntah di trimester pertama itu lumrah buat ibu hamil.  Yang gak lumrah adalah flek yang terus bermunculan.  Sedang hamil tapi mengalami flek, saya mulai khawatir.  Saat check up ke dokter, vonis baru saya dapatkan.  Placenta Previa (PP) Total.  Placenta tumbuh tepat di jalan lahir. Kalau mau aman, harus bedrest total.  Setiap gesekan pada placenta akan berefek keluarnya flek yang bisa berlanjut pada keguguran. Karena PP ini juga, sejak hamil muda dokter sudah memastikan saya akan melahirkan lewat proses operasi Caesar.

Saya kembali galau.  Sebagai karyawan, saya tak ingin cuti lebih awal.  Kalau cuti sekarang, nanti saat melahirkan, jatah cuti saya habis dong.  Untuk memutuskan resign saat itu saya belum siap.  Kami berdua tinggal di Bogor, sementara orang tua dan mertua serta keluarga lainnya di Kendari dan Bali.  Resign, dirumah sendiri setiap hari, oh tidak, saya membayangkan betapa membosankannya hari-hari seperti itu.  Alih-alih bahgia, bisa jadi saya malah nangis setiap hari. 

Dengan kondisi kandungan yang rapuh itu, saya memutuskan tetap bekerja, dengan ekstra hati-hati tentunya.  Perjalanan Bogor – Jakarta – Bogor dengan kereta api (jaman itu kereta belum senyaman sekarang) menjadi kisah perjuangan tersendiri yang rasanya sangat panjang untuk diceritakan.  Di kantor, kondisi kehamilan ini saya sampaikan baik-baik ke atasan dan teman-teman.  Bersyukur semuanya sangat pengertian.  Ruangan kerja saya bahkan dipindah ke lantai 1 agar saya tak perlu sering naik turun tangga. Meski demikian PP ini memang sensitif sekali.  Sedikit saja saya bergerak agak aktif, flek keluar.  Makin tua usia kandungan, makin banyak pula flek yang keluar.  Alhasil sejak usia 5 bulan hingga menjelang melahirkan, setiap bulan selalu ada masa menginap di rumah sakit.  Dan ya, akhirnya bayi mungil kami lahir lewat section di bulan Maret 2010.  Kehadirannya membawa warna baru dalam hidup kami.  

Selamat Datang Bintang Terang


4 Maret 2010, dunia kami berubah.  Tangisan kencang bayi mungil memenuhi ruang operasi saat dirimu diangkat keluar dari dalam rahim ibu.  Prema, kami memberimu nama itu yang artinya cinta kasih.  Kami berdoa sepenuh hati agar kelak dirimu menyinari dunia layaknya bintang terang yang penuh cinta.  Sungguh Nak, kehadiranmu adalah bonus luar biasa untuk Ayah dan Ibu.  Dengan kondisi rahim yang “acak kadut” dan kecilnya kemungkinan untuk hamil, Prema hadir sebagai pejuang tangguh yang terus bertahan dan akhirnya memenangkan pertempuran.  Semua aral yang mengganggu berhasil Prema singkirkan, dengan kekuatan cinta, demi pertemuan kita di dunia.

Air mata bahagia mewarnai hari itu. Tubuh mungil seberat 2,4 kg yang terlihat sangat rapuh itu siap menghadapi dunia. Ibu tak akan lupa, setiap kali ada teman Ayah dan Ibu datang berkunjung ke rumah sakit, saat mereka ingin melihatmu di kamar bayi, jawaban ibu selalu sama, “cari yang paling mungil.” Karena memang diantara sekian banyak bayi disana, tubuhmu terlihat paling imut. Tapi jangan salah, tangisanmu paling melengking yang menunjukkan bahwa Prema memang pejuang hebat. Haha.

Lalu poros hidup kami berubah.  Yang biasanya berdua, kali ini bertiga.  Yang biasa kemana aja suka-suka sampai malam sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah.  Panggilan juga berubah, tak lagi aku kamu atau sekedar nama. Tapi menjadi Ayah dan ibu. Begitupun Mbah, Kakek, Pekak dan Nini semua tiba-tiba berganti nama. Prema memang hadir memberi warna baru.

Dan ibu benar-benar bertekad memberikan yang terbaik untukmu. ASI wajib kamu dapatkan karena memang itu adalah hak yang utama. Masih terpatri jelas diingatan masa-masa dua tahun menyusui, setiap hari ibu memerah susu di kantor demi oleh-oleh untukmu pada malam harinya.  Bersyukur kita tak perlu melewati drama bingung puting ya, Nak.  Ah, Prema memang hebat sejak bayi.  Sangat mengerti kondisi ibu.

Sambut 7 Tahun Pertamamu

Sekolah kehidupan tahap demi tahap kita lalui bersama.  Ayah dan ibu belajar banyak hal baru dari Prema. Iya, menjadi orang tua memang tak ada sekolahnya.  Karena kita semua sesungguhnya adalah guru sekaligus murid. Betapa kami ditempa untuk menjadi orang tua yang sabar, memberi contoh yang baik dan seterusnya. Hingga hari ini, jelang 7 tahun usiamu, kita terus belajar bersama ya.  Bergandeng tangan, berpeluk erat, saling mendukung satu sama lain.

Ada yang bilang, usia 7 tahun adalah peralihan dari masa kanak-kanak menuju anak yang sesungguhnya.  Pada usia ini, anak tak lagi belajar dari bermain tapi sebaliknya menemukan “bermain bahagia” dari belajar.  Ini adalah PR kita bersama ya, Nak.  Mulai deh edisi ngeyel-ngeyelan, bantah-bantahan sampai ngambek-ngambekan ala anak gede. Haha gak apa-apa, semua memang ada masanya.

Apapun itu Nak, hadapi hidupmu dengan bahagia.  Bertemanlah dengan siapa saja tanpa memandang latar belakangnya.  Karena semua adalah warna warni dalam kehidupanmu.  Bagilah terus cinta kasih dengan damai.  

Ingat Nak. Kesuksesanmu bukan diukur dari seberapa tinggi pendidikanmu atau sejauh mana kakimu menjelajahi bumi.  Bukan pula soal seberapa banyak harta yang dipunya tapi seberapa bermanfaat dirimu untuk sesama. Karena bahagia itu sederhana.  Ketika kamu memandang semua mahkluk dengan cinta, maka itulah bahagia sesungguhnya.

Selamat Ulang Tahun Prema

4 Maret 2017


Peluk Cium

Ayah dan Ibu

Disertakan dalam #GADianOnasis



25 comments:

  1. Happy birthday prema... sehat2 selalu ya Nak

    Makasih udah ikutan lomba saya ya putu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga lombanya Uni, saya jadi terinspirasi untuk menulis cerita ini

      Delete
  2. selamat ulang tahun ya.. gak terasa sdh 7th berlalu spt baru kmrn saja ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak
      Iya 7 tahun rasanya cepet banget
      Lalu saya kangen bayi lagi hahaha

      Delete
  3. Selamat ulang tahun Prema. Semoga menjadi pria perkasa. :)

    ReplyDelete
  4. Karena bahagia itu sederhana. Selamat ulang tahun yang ke-7, Prema. Semoga sehat dan bahagia selalu ya. Aminn

    ReplyDelete
  5. Selamat ulang tahun Premaaaa, wish you allbthe best yah...
    .
    .
    Hamil butuh perjuangaan, sama Mbak. Aku malah pada dikira dulu sulit hamil. Heheh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget. Bisa hamil itu bonus banget deh buat aku

      Delete
  6. Cihuy., selamat ulang tahun ya. Semoga anaknya eksis kek mak nya yang lincah hehe..

    ReplyDelete
  7. Premaaaa, selamat ultaaahh. Wish all the best. Terharu baca perjuangan ibunya. Huhuhu. Sehat selalu ya Prema

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha perjuangan yang penuh drama mbak
      Makasi yaaaa

      Delete
  8. Aku belum pernah hamil sih mbak..tapi dari cerita yang haru biru gitu juga banyak dari teman...suka deg2an kalo ada yg cerita kehamilan ada flek dll...btw Selamat ulang tahun ke-7 Prema :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang aja mbak. Setiap perempuan itu unik dengan masalahnya masing-masing. Sharing seperti ini hanya untuk berbagi kisah aja kok, bukan berarti yang lain akan mengalami yang sama

      Terimakasih ucapannya buat Prema

      Delete
  9. Happy bday Prema semoga makin pinter yaaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih tante April
      Salam.ya buat adik Hamza dan Dema

      Delete
  10. terimakasih sharingnya Mbak. Perjuangan sekali ya u hamil. Alhamdulillah jagoannya udh tumbuh besar. Met ulangtahun Prema...semoga selalu sayang Mama Papa...

    ReplyDelete
  11. Inspiring story :) tidak ada yg tak mungkin buat Tuhan ya mbak :) selamat bertambah usia, Prema :)

    ReplyDelete
  12. Happy Birthday to you!!!
    Wish you become a successful MAN!!
    Your Diamonds Sincerely,
    "freddygunawan.com"

    ReplyDelete
  13. Perjuangan utk mendapatkan anaknya luar biasa mba :).. Tuhan maha baik yaa... semoga prema bisa tumbuh jadi anak yg slalu berbakti kepada orangtua dan Tuhan pastinya... happy birthday prema ;)

    ReplyDelete
  14. Selamat ulang tahun Prema. Semoga selalu jadi kebanggaan Ayah Ibu.
    Berat lahirnya sama kayak anakku. Mungiiiil sekali :P

    ReplyDelete