Memupuk Cinta Merajut Hati ; Sebuah Refleksi Perjalanan Sebelas Tahun

Saturday, April 1, 2017



“Sejatinya perjalanan adalah ketabahan menunggu ; menunggu untuk cinta bertemu”

Quote cakep itu saya baca pagi ini saat blogwalking diblog mbak Windi Saras.  Dia menulis review sebuah Novel berjudul “Cinta Daur Ulang”.  Kenapa saya tertarik untuk ikut mengutipnya, karena memang menarik dan (sepertinya) benar.  Setidaknya dari sudut pandang saya ^^

Dalam setiap hubungan, saya yakin semua pasti berharap happy ending.  Semua pasangan pasti punya mimpi hubungan yang terjalin akan sampai di ujung yang bahagia.  Pernikahan adalah ujung perjalanan dari pacaran, perjodohan atau apapun namanya.  Tapi pernikahan itu sendiri justru adalah awal untuk perjalanan yang baru,  melangkah bersama membangun bahagia.


 
Di sisi lain, kalau ini soal ketabahan menunggu, saya pernah berada dalam sebuah hubungan panjang tanpa kepastian ujungnya seperti apa #uhuk #curcol.  Sampai akhirnya saya bertemu dia yang memberi kepastian dan membuat saya mengambil keputusan besar untuk berganti haluan.  Ya, perempuan butuh kepastian. Dan hari ini, 1 April 2017,  11 tahun sudah perjalanan kami dalam ikatan suci bernama pernikahan.

Masih ingat kisah #HaqySelmaJourney?

Oh yes, so yesterday ya.  Gak apa-apa, saya bukan mau bahas mereka kok, karena saya juga sebenarnya #teamSena walaupun saya pernah berada di posisi Selma #ehgimana

Iya.  Saya pernah“terjebak” pada kisah yang-jujur saja- berat untuk dijalani.  Perbedaan keyakinan adalah dua kutub yang sangat jauh dan rasanya tak bisa bertemu.  Err… iya sih, banyak jalan menuju Roma, tapi ya banyak hati dan rasa yang juga harus dipertimbangkan.  Bukan hanya tentang kami, tapi ini tentang luka yang (mungkin) akan menggores hati orang-orang tercinta.

“Pria punya hak memilih, namun wanita punya hak memutuskan”

Satu lagi quote yang saya kutip dan sepertinya pas. Apa deh ini, dari tadi bahas quote melulu. Saya kemudian memilih. Oke dia bukan Haqy dengan embel-embel nama besar dibelakangnya, meskipun mungkin Selma juga gak melihat itu ya. Tapi saya memang agak gak pas pada cara dia mengklarifikasi pilihannya dan sibuk mencari pembenaran sekaligus mengumbar bahwa awalnya dia belum mencintai Haqy namun memutuskan menerima lamarannya dengan alasan realistis.   Halagh lagi-lagi balik ke Selma.  Kembali ke laptop deh. Fokus fokus fokus. Intinya saya memilih.  Tak perlu ada peran antagonis disini. Kalau begitu ngapain ngungkit-ngungkit kisah lama.  Namanya juga refleksi, boleh dong ya pemirsa hehehe


1 April 2006 - 1 April 2017


11 tahun berlalu hingga kami sampai pada tanggal ini.  Perjalanan yang (mungkin cukup) panjang tapi bisa jadi belum ada apa-apanya jika dibandingkan pasangan lainnya.  Jika dibandingkan dengan usia anak-anak, 11 tahun itu baru kelas 4 SD, masih jauh perjalanan untuk lulus dari pendidikan dasar.  Bayangkan, pendidikan dasar saja kami belum lulus lho, jadi ya memang belum apa-apa.


Ada yang bilang, cobaan terbesar dalam kehidupan pernikahan hadir dalam masa dekade kedua.  Kalau 5 tahun pertama adalah tentang menemukan ritme dan mentoleransi ego masing-masing, lalu 5 tahun kedua adalah tentang membangun bersama, maka 5 tahun ketiga biasanya adalah masa dimana keinginan terasa bagai kebutuhan, hingga susah untuk dibedakan.  Entahlah, benar atau tidaknya, yang pasti kami sedang memasuki periode ini.  Semoga saja kami tetap bisa memilah dan memilih antara kebutuhan dan keinginan.

Saya pernah merasa terpuruk dan nyaris putus asa.  Sebagai perempuan yang di vonis dokter tak bisa hamil (dengan cara normal), jujur saja saya merasa tak berguna. Tapi Tuhan juga memberi saya bonus.  Lelaki super sabar sebagai pendamping yang menerima saya apa adanya.  Yang siap menguatkan dalam segala kondisi dan  tetap memberi dukungan terbaiknya.


Tujuan utama dari sebuah pernikahan memang  bukan hanya menghasilkan keturunan, meskipun memang memperoleh buah hati tentu menjadi harapan dari setiap pasangan.  Namun sekali lagi, anak itu adalah hak penuh sang pemilik nyawa.  Kita hanya perlu berusaha maksimal dan berdoa.  Keputusan dan waktu yang tepat, hanya Dia yang tahu. 

Seperti halnya bulan, ada masa Purnama ada masa tilem (gelap).  Kami juga mengalami itu, masa-masa yang tak selamanya benderang.   Sesekali  diberi masa gelap agar menyadari bahwa cahaya begitu berharga.  Bahwa jauh lebih baik mempertahankan secercah cahaya daripada sibuk merutuki kegelapan.

Perjalanan 11 tahun ini mengajarkan saya banyak hal.  Bagaimana bertanggung jawab pada setiap piliha dan keputusan.  Bagaimana menempatkan diri sebagai istri, ibu sekaligus pribadi yang juga butuh kebahagiaan dan kenyamanan.  Ini bukan tentang aku, kamu atau pribadi masing-masing.  Ini tentang kita.  Keluarga kecil kita.  Ayah Ibu dan Prema.  

11 Tahun dan pertanyaannya masih saja sama


“Ayo hamil lagi, ntar Premanya udah kegedan, emaknya keenakan deh.  Bisa lupa lho rasanya ngurus bayi!”
“Kapan ngasi adik buat Prema?’
“Masa hanya satu sih, gak pengen nambah lagi biar rame?”

Saya kenyaaaaaang dengan pertanyaan seperti itu dan segala derivasinya.  Pertanyaan yang biasanya hanya saya jawab dengan senyum.  Kalau lagi baik hati saya jawab panjang, “Saya gak pernah KB dan gak pernah mengatur jarak kehamilan.  Memang belum diberi kepercayaan lagi.”  

Nah repotnya, kalau udah dijawab gitu, masih pula dicecar tanpa henti. 

“Trus kok belum hamil lagi?”

“Kandungannya bermasalah ya?

“Gak niat program aja? Ingat umur lho, jangan sampai lewat 40 tahun!”

Oke fix.  Kalau sudah begini saya tutup dengan jawaban, “Kalau diberi hamil lagi, itu bonus.  Karena bisa punya Prema saja sudah anugerah luar biasa buat saya.  Rahim saya memang butuh sedikit perlakuan khusus. Tapi kalau gak dikasi, ya sudah yang satu ini diurus baik-baik.” 



Pada titik ini, kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika pendamping saya adalah orang pertama yang selalu hadir sebagai pahlawan.  Menguatkan setiap kali saya terpuruk oleh pertanyaan-pertanyaan.  Menghapus air mata yang sering mengalir setiap kali masalah yang sama berulang hadir dalam rahim.  Saya lelah.  Dan saya tahu (sebenarnya) dia juga lelah.  Tapi tak pernah dikatakannya.  

Lalu Prema.  Kehadirannya ditengah kami selama 7 tahun terakhir menjadi warna indah yang mengisi setiap relung bahagia.  Menjadikan kami belajar menjadi orang tua.  Memberi kami kesempatan untuk berproses bersama di sekolah kehidupan bernama keluarga.  Dan perjalanan ini masih panjang.  Masih membentang 11 tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

Harta dalam rumah tangga bukanlah dilihat dari tumpukan materi yang dimiliki, namun dari rasa sayang dan cinta yang terus tumbuh dari hari ke hari.  Mari jaga bersama.  

Happy Anniversary

12 comments:

  1. Duh, baca ginian kan bikin aku jadi pengen punya pendampiiing

    Mbak, kok nggak pake soundtrack lagu "sekarang atau 50 tahun lagi ku akan slalu tetap mencintaimuuuu ~~~"

    happy anniversary ya mbaaaak



    aku juga #teamsena looh >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahahaha semoga jodohnya segra bertemu ya
      Semua ada waktunya :)
      Wah ide bagus tuh soundtracknya, download segera deh

      Delete
  2. Mba Arni, happy anniv ya. Semoga bahagia dan samara sampai maut memisahkan. Amiinn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimaksih Gesi. Doa yang sama untukmu dan Adit

      Delete
  3. Happy anniversary Mbak Arni, semoga bahagia selalu dengan keluarga kecilnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi ya Pril. Bahagia selalu juga buatmu dan keluarga

      Delete
  4. "Ntar emaknya keenakan deh."
    "Iya lah. Emang situ... nggak dienak-enakin sama laki."

    Duh udah punya anak pun masih aja dinyinyirin ya, Mba, haha... Sehat dan pintar2 terus, ya Prema :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha begitulah.
      Kalau diturutin nanti bawannya baper terus. Wong berbuat baik aja dinyinyirin kok apalagi yang gak sessuai sama maunya mereka

      Delete
  5. So sweet mbak..aq tahun ke 6, dan emang beneran 5 th ke belakang itu super menyeramkan. Hoho. Smg 5 tahun ke depan lbh baik. Dan mba arni smga puluhan tahun ke depan selalu langgeng ya.aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk mbak Dian
      Semangat menuju tahun-tahun kedepan yang lebih panjang ya

      Delete