Yuk, Asah Kepekaan Sosial Kita ; Sepenggal Harap dari Kasus Bunuh Diri

Monday, March 20, 2017


Minggu kemarin media sosial diramaikan dengan video seorang bapak yang bunuh diri secara live.  Jujur saja saya tidak berani menonton siaran live itu.  Cukup membaca dari media massa  dan cerita teman-teman.  Meski tak menonton videonya, tapi tetap saja saya susah menghindar ketika beberapa kontak ternyata justru membagikannya di medsos lantas melintas di timeline saya, sehingga saya sempat menyimak sekilas beberapa komen (dan foto) saat kejadian itu.

Kenapa saya kemudian tergelitik menulis ini, jujur saja saya sedih melihat bagaimana cara (kita) menanggapi kejadian ini.  Saya sedih mengetahui bahwa saat sedang live bunuh diri, ternyata banyak yang nyinyir, mengata-ngatai, menyalahkan  bahkan mentertawakan bapak itu.  Pun tak sedikit yang ternyata (seperti) menikmati tontonan itu layaknya film.  Ya ampuuun ada apa dengan kita? Kemana nurani kita?

Selamat Ulang Tahun ; Selalu Ada Cinta Untukmu, Nak!

Saturday, March 4, 2017



Medio Agustus 2008

Tangis saya pecah begitu keluar dari ruang praktik dokter.  Saya ingat betul, malam itu rasanya jadi malam paling gelap dan suram.   Pelukan suami yang harusnya menenangkan malah membuat tangis saya makin menjadi-jadi.  Dan jujur, sampai hari ini, vonis dokter itu masih terngiang-ngiang di telinga saya

“Hmm… hasilnya negatif.  Salurannya tertutup.  Sebaiknya pertimbangkan untuk program bayi tabung saja.  Karena untuk proses normal kemungkinannya kecil sekali. Apalagi ovarium yang masih bagus hanya sebelah kiri”