Sepenggal Bahagia Bersama #NgulikDongeng

Tuesday, February 21, 2017


Photo by @amrsyax
Mendongeng.  Sebuah aktivitas yang sepertinya makin kesini makin sedikit yang mau melakukannya.  Dengan berbagai alasan, tak banyak orang tua yang bersedia meluangkan waktu untuk mendampingi anak dan berbagi kisah yang sarat pesan moral.  Bahkan ada lho yang menganggap kegiatan mendongeng ini ketinggalan zaman, lalu menggantikannya dengan game-game online di gadget keluaran terbaru.  Sediiih….


Saya, sampai hari ini percaya bahwa kegiatan mendongeng, baik lewat story telling (cerita tanpa buku) maupun read aloud (bercerita dengan membaca buku bersama) adalah cara terbaik untuk mendekatkan orang tua dan anak. Menjadikannya berminat pada buku dimana mereka merasakan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan, sekaligus menyisipkan pesan-pesan kebaikan sehingga anak dapat menangkap pesan moral tanpa paksaan atau bentakan.

Ou itu bagian idealnya ya.  Bagian lainnya, saya ini cerewet dan demen ngoceh, jadi butuh penyaluran dong ya buat ngomong.  Timbang ngomel dan ngoceh gak jelas, mending diarahkan jadi membaca cerita buat Cah Bagus to yo #modus.  Anaknya anteng emaknya juga senang. Haha

Sebagai salah satu staf pengajar di Ganesha Brahmacari Ashram, saya juga kerap menggunakan metode story telling dalam memberi pelajaran.  Dan sungguh, adalah bahagia tak terlukiskan melihat wajah polos anak-anak yang tampak menikmati cerita.  Tergelak bersama, diam menyimak, tampilan ekspresi yang tak bisa diceritakan, hanya bisa dirasakan, dengan hati.  

#Ngulik Dongeng #KDKH


Komunitas Dongeng Kota Hujan (KDKH)  sudah mencuri perhatian saya sejak dua tahun yang lalu saat acara piknik dongeng di Kebun Raya Bogor dalam rangkaian kegiatan Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) dari Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI).  Angkat topi pada para relawan dongeng yang menjadi penjaga mimpi anak Indonesia ini.   Pengeeeeeen pake banget buat gabung, apa daya seringkali bentrok dengan kegiatan lain hiks.


Suasana workshop. Photo by @amrsyax

#Ngulik Dongeng adalah salah satu kegitan rutin dari KDKH berupa sharing pengetahuan tentang lika liku dunia dongeng dan mendongeng.  Saya tentu saja tak mau (lagi) melewatkan kesempatan kece ini.  Apalagi ngulik dongeng 18 Feb kemaren langsung diisi oleh Kak Aio, founder AyoDI.  Cuss lah, sabtu pagi menerobos macet membelah jalanan Bogor menuju ruang Dilo, berkumpul bersama para penjaga mimpi anak Indonesia.

Menurut Kak Aio, mendongeng itu hanya butuh 5 hal yaitu :

1    Mental.  Ini pastinya wajib banget dimiliki oleh pendongeng ya.  Siap tampil dan tentu saja siap malu juga haha.  Yang pasti memang harus ada kemauan dan kemampuan.  Kalau udah mau, otomatis akan berlatih agar mampu.  Meng-upgrade diri untuk menjadi pantas berbagi

2      Konten dan kemasan
Konten yang dimaksud adalah cerita yang akan dibawakan.  Lha iya, mau ngedongeng tapi gak punya cerita, piye jal?  Tapi dalam situasi tertentu, misalnya kita gak siap cerita untuk mendongeng,  bisa diakali dengan melibatkan audience (peserta dongeng) dalam cerita yang akan disampaikan.  Lakukan sekreatif mungkin dengan memancing mereka membuka cerita lalu menyambung-nyambungkannya.
Dalam hal konten ini, sebaiknya hindarkan kata-kata atau kalimat negative.  Yups, kita tentu saja berharap bisa menitipkan pesan kebaikan lewat dongeng, maka lakukan dengan bahasa yang baik.  Pun sebaiknya pendongeng sebaiknya memahami cerita, bukan menghafalkannya.
Dengan memahami, kita akan lebih mudah mengembangkannya dibanding menghafal yang akan membatasi ruang imajinasi pendongeng itu sendiri.

Adapun kemasan, adalah bagaimana pendongeng menampilkan dongeng itu sendiri.  Dan ini terkait dengan 3 point utama yaitu suara, ekspresi dan gesture.

3      Suara
Pernah dengar pendongeng yang andai menirukan aneka macam suara? Nah itu bisa jadi nilai lebih buat pendongeng.  Namun, hal ini tak wajib kok.  Tanpa harus pandai mengubah-ngubah suara, kita uga bisa jadi pendongeng yang baik.  Bermain dengan intonasi adalah point penting yang wajib diperhatikan.  Memberi tekanan pada suara untuk kalimat-kalimat tertentu, berbicara lebih cepat/lambat, lirih dan seterusnya akan menjadikan dongeng terasa lebih hidup dan dapat dinikmati.

4      Ekspresi
Selain suara, ekspresi juga menjadi hal yang wajib.  Khan gak mungkin ya kita bercerita tentang sesuatu yang lucu tapi wajahnya manyun.  Atau mau menampilkan adegan sedih tapi mimik. wajahnya malah seperti orang marah.  Jaka sembung bawa go pro.  Gak nyambung mas Bro!

   Gestur/gerak tubuh
Point terakhir yang tak kalah penting adalah gestur.  Namanya juga menjadi penampil, tentunya gesture juga harus menarik perhatian.  Tak harus tampil mewah dan glamour atau dandan heboh kok.  Bergerak sewajarnya, menyesuaikan dengan kalimat yang diucapkan.  Kontak mata dengan audience juga wajib dijaga agar focus tetap ke arah kita.

Selanjutnya cara memilih cerita, pastikan bahwa kita membawakan cerita yang sesuai dengan usia audience dan tentu saja cerita yang kita sukai.  Audience dongeng sendiri terdiri dari beberapa kelompok umur yaitu  usia dini, anak-anak dan remaja/dewasa.

Kelompok usia dini misalnya, akan lebih tertarik pada kisah-kisah dengan binatang sebagai tokoh utamanya.  Hewan-hewan yang bisa berbicara yang lebih mengajak imajinasi mereka berkelana membayangkan adegan dalam cerita.  Akan berbeda jika audiencenya anak-anak yang lebih tertarik pada kisah-kisah ajaib, princess dan sejenisnya.  Lain lagi kalau sudah bertemu dengan kelompok remaja, mereka akan menyukai kisah detektif, misteri, sejarah dan lain-lain.  


Mendongeng adalah seni mengatakan tanpa mengatakan


Ehm… bingung ya. Saya juga bingung. Toss dulu kita hahaha.
Jadi gini, karena mendongeng itu sesungguhnya adalah bercerita, baik dengan atau tanpa buku.  Cerita yang bukan sekedar cerita tapi sarat pesan moral.  Mendongeng adalah mengemas cerita menjadi menarik dan tidak membosankan dimana audience dapat menangkap pesan kebaikan yang tersirat tanpa harus mengatakannya secara langsung seperti memberi perintah/aturan/tata tertib.   

Bagaimana membuat dongeng menjadi menarik?
Kesan pertama harus meyakinkan.  Gunakan kalimat pembuka yang seru.  Mainkan ekspresi dan gesture.  Curi perhatian dari para penonton.  Selanjutnya terserah anda #eh 

Latihan Mendongeng


Bagian ini juga tak kalah serunya.  Baru membaca judul saja, rasanya sudah ketemu banyak yang kurang pas.  Wew, harus banyak latihan memang ya.  Yang paling penting, jika ingin mendongeng dengan teknik read aloud, maka kita harus membaca ceritanya terlebih dahulu dan pahami kisahnya. Oh ya, sebagai bentuk penghargaan literasi, sebaiknya menyebutkan nama pengarang dari setiap buku yang akan kita baca, setelah membaca judulnya.
Ayo semangat.  Mau Mampu Mesti. Phto by @amrsyax

Dalam tekhik read aloud, penting banget untuk bisa membaca lebih cepat daripada mengucapkan.  Ini dimaksudkan agar kita tak kehilangan kontak mata dengan penonton.  Pengenalan huruf, kata dan kalimat yang akan menambah perbendaharaan kata adalah tujuan utama teknik ini, selain pesan moral dari ceritanya tentu saja. 

Ternyata, meskipun saya cukup sering mendongeng, baik buat cah bagus maupun murid-murid saya di kelas, tetap saja kagok ya saat diminta membaca cerita di hadapan orang lain.  Ah lagi-lagi, memang berlatih itu wajib.

Well, Sabtu yang ceria dan menyenangkan.  Mendapat banyak tambahan ilmu, mendapat banyak kawan baru.  Saya bahagia dan ingin menjadi bagian dari para penjaga mimpi anak Indonesia melalui cerita. Tak muluk-muluk, bisa melihat ekspresi menggemaskan dari anak-anak yang menyimak cerita adalah bayaran mahal tak ternilai yang menjadi mimpi terbesar saya.

Yang pasti, tak perlu banyak teori. Lakukan saja, baca saja, bahagia akan datang menyertai. 

Jadi, sudahkah ayah dan ibu meluangkan waktu untuk bercerita pada si kecil hari ini?

Ayo dongeng. Ayo Cerita. Aku, Kamu, Kita semua.  Untuk Anak Indonesia.



Salam dongeng

EmakCihuy




1 comment:

  1. Belakangan ini Aiman suka minta dibacain buku, lucunya semua buku minta dibacain kayak mendongeng meski itu bukan buku dongeng misalnya buku pengetahuan tentang hewan. Giliran saya deh yang kudu kreatif n bereksplorasi. Makasih sharingnya Mbak.

    ReplyDelete