Proses Panjang Perjalanan Darah ; Dari Donor Hingga Transfusi

Tuesday, February 14, 2017



“Ibu harus transfusi darah dulu, agar efek bleedingnya gak makin parah!” kata dokter kandungan saat saya konsultasi  malam itu

Deg. Jujur aja saya kaget. Gak nyangka sama sekali kalau Hb saya drop sampai harus mendapat tambahan sejumlah darah.  Bukan apa-apa,  bleeding seperti ini adalah yang kesekian kalinya saya alami.  Dengan riwayat kondisi hormon yang memang gak stabil sejak jaman dulu kala, masalah ini berulang dan terus berulang, entah sampai kapan #nyesek

Sebenarnya ini juga bukan pertamakali saya menerima donor darah.  Pernah sekali saat menjalani laparoscopy untuk mengangkat kista endometriosis yang membandel dalam ovarium, tapi itu khan memang sayanya operasi, jadi yo wajar harus siap darah  buat jaga-jaga. Nah kali ini kondisinya beda, saya (merasa) baik-baik saja.  Masih bisa memotoran kesana kemari setiap hari, meski memang kadang agak keliyengan sih, namanya juga pendarahan gak brenti-brenti selama hampir sebulan ya, tapi tetap saja “vonis” dokter itu bikin saya shock.


Dan begitulah. Tak ada alasan untuk menolak.  Prosesnya harus dijalani.  Lalu disinilah saya, Sabtu 11 Februari 2017  terbaring pasrah, menerima aliran darah sebanyak 2 kantung. Demi sehat sehat sehat.
  

Dari mana sumber darahnya?

Anak kecil juga tau yak.  Pastinya dari donor darah dong ah.  Ada yang menarik saat saya melakukan donor ini.  Seseorang bertanya tentang kondisi saya dan kenapa saya harus donor.  Setelah memberi jawaban, pertanyaan selanjutnya adalah, “darahnya bayar?”

Karena untuk pengobatan kali ini saya mencoba menggunakan BPJS (untuk pertama kalinya), saya jawab jujur bahwa memang yang dicover BPJS hanya 1 kantung darah.  Sisanya saya bayar sendiri.  Dan tahukah kawan, apa tanggapannya?
Dengan sedikit masam dan agak bersungut, dia bilang, “Inilah anehnya, kenapa  orang butuh darah harus bayar, padahal khan yang donor aja gratisan.  Orang donor itu sukarela lho, giliran ada yang butuh malah disuruh bayar, pendonornya gak kebagian apa-apa pula.  PMI nyari untung nih!”

Woooooo….. kalau saja saya tak sedang tergolek lemas saat itu, ingin rasanya saya berdebat.  Apa daya saya hanya bisa tersenyum dan bilang, “Khan ada biaya proses dan pemeliharaan, gak langsung dari donor ke penerima,” Yang sayangnya masih disambut dengan “keluhan” olehnya.  Ah sudahlah, saya tak mau berdebat.  Sepertinya kali ini benar, diam itu emas.

Nah, gara-gara obrolan itu, saya jadi tergelitik untuk menuliskan ini.  Meski saya bukan pegawai PMI, gini-gini saya pernah juga lho donor darah.  Bahkan sebelum tranfusi kemaren, saya sempet digodain sama suster jaga karena nyodorin kartu donor sebelum tes golongan darah, lha biasanya donor sekarang malah butuh transfusi hehe. Jadi ceritanya, jaman saya donor dulu, seringlah ngobrol sama petugas PMI-nya, seperti apa darah-darah yang didonorkan ini diproses, dibawa dan simpan dimana, hingga berapa besar peluang ketersediaan darah di Bank darah PMI untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Jadi gini kawan, darah dari donor memang tak bisa langsung berpindah begitu saja ke tubuh penerima, ada proses panjang yang harus dilakukan, minimal 6 jam sebelum darah benar-benar siap untuk ditransfusi kepada yang membutuhkan.  Kenapa? Karena darah yang didonorkan memang harus benar-benar murni dan bebas dari segala virus/penyakit.  Masa iya sih, orang sakit malah dikasi darah bervirus.  Alih-alih sembuh yang ada malah lewat #ups

Saya ingat banget, dulu saat mau donor darah, dalam sambutannya, wakil dari PMI menyampaikan, “biaya yang dikeluarkan saat penerima butuh darah sebenarnya adalah sebagai “pengganti” biaya pengolahan darah.  Tapi ya memang singkatnya orang pasti bilang beli darah.  Padahal ya darahnya sendiri gratis, yang mahal itu biaya prosesnya.”

Apa Saja Tahapan Prosesnya?

Well, bagian ini mungkin tak banyak yang tahu.  Perjalanan darah cukup panjang lho mulai dari pengambilan darah donor, analisis skrining, pemisahan komponen darah, penyimpanan sampai pendistribusian ke rumah sakit-rumah sakit.  Setiap proses ada biayanya dong. Dan karena PMI adalah “organisasi sosial” meskipun (mungkin) ada anggaran dari pemerintah, namun donasi masyarakat juga sangat dibutuhkan.  Coba kita intip satu persatu prosesnya yuk

Pengambilan darah donor
Pada proses ini pastinya ada biaya untuk kantung darah, jarum suntik, pengecekan kesehatan pendonor, perawatan luka setelah ditusuk, perban dan tambahan biaya penunjang lainnya seperti listrik, transportasi, konsumsi dan seterusnya.  See, baru disini saja sudah terlihat pengeluarannya.  Selain itu, Indonesia belum bisa memproduksi kantong darah sendiri, sehingga semua kantong darah yang kita pakai masih impor.  Nambah lagi khan mahalnya ^^

Analisis Skrining
Kantung-kantung darah donor akan melewati proses pengolahan dan pemisahan dimana darah manusia terdiri atas komponen seperti sel darah putih, sel darah merah pekat (PRC), sel darah merah miskin lekosit, anti hemophili facor (AHF), trombosit, plasma segar beku (FFP). Kemudian masih dilanjutkan dengan uji lab untuk penyakit seperti hepatitis B, hepatitis C, HIV dan syphilis.
Metode skrining darah ada dua macam yaitu skrining serologi dan Nucleic Acid Testing (NAT). Masing-masing memiliki keunggulan dan biaya yang berbeda.  Skrining diperlukan agar darah yang akan ditransfusikan tidak membahayakan penerima sehingga aman dan bebas infeksi.

Pemrosesan Komponen Darah
Transfusi yang saya jalani sabtu kemarin berupa darah merah murni untuk menaikkan hemoglobin.  Tapi tak selamanya lho transfusi itu berupa darah merah, darah dapat diproses lagi sesuai dengan kebutuhan penerima sehingga bisa jadi darah merah saja, darah putih saja dan seterusnya.  Misalnya saja untuk penderita demam berdarah yang butuh menambah trombosit, maka transfusi yang dilakukan berupa trombosit.  Dan semua ini tentu saja ada biayanya.


Uji Silang Serasi
Nah, sebelum darah ditransfusikan ke tubuh penerima, terlebih dahulu ada proses pencocokan satu sama lain.  Biaya ini juga termasuk lho dalam “harga’ yang kita bayarkan untuk setiap kantung darah.  Ya bagaimanapun darah ini khan berasal dari dua tubuh yang berbeda.  Harus benar-benar sesuai dong ya agar tak menimbulkan efek samping kemudian. 

Terimakasih Terimakasih Terimakasih

Well, panjang ya prosesnya guys.  Karena prosesnya panjang, biayanya juga lumayan.  So, harga sekantong darah yang tempo hari saya beli sekitar 500-ribuan  itu menurut saya termasuk wajar ya.  Meskipun memang, dalam kondisi darurat dan terdesak tak semua orang punya cadangan dana terutama jika masih harus ditambah dengan kebutuhan ini itu terkait pengobatan.  Dan mungkin beginilah memang cara Tuhan menghadirkan cinta dan kepedulian antar sesama manusia, untuk saling menolong dalam kesulitan.

Saat proses transfusi yang saya lalui, karena memang dilakukan dalam kondisi saya sadar sepenuhnya, saya seolah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk benar-benar menyadari pentingnya tiap tetes yang masuk melalui selang infus itu.  Saya mengamati alirannya yang kemudian menghilang dibalik nadi. Merasakan perjalanannya yang terasa agak dingin ketika menyusup ke dalam tubuh. Luar biasa.  Saya tak tahu darah siapa yang sekarang bercampur dalam tubuh ini, tapi siapapun itu, sungguh terimakasih tak terhingga untuk kalian wahai para pendonor.  Betapa kebaikan kalian menyelamatkan banyak nyawa dan jiwa yang terluka. Dan satu hal, darah tak mengenal SARA.  Lupakan perbedaan ini, karena kita tak bisa memilih mau menerima darah siapa atau menolak darah siapa :)

Terpujilah para pendonor darah. Terpujilah kalian para petugas kesehatan. Pejuang kemanusiaan.

Salam sehat
Emak Cihuy



20 comments:

  1. iyyaa waktu abis lahiran, aku pendarahan banyak dan kudu beli 3 kantong darah buat naikin lagi... harga sekantong darah kisarannya segitu, bisa lebih murah klo beli langsung di pmi... aku kepingin bgt transfusi darah, tapi aku bakat anemia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pas lahiran juga diminta nyiapin darah, apalagi karena memang riwayat placenta previa. Tapi syukurlah gak sampai harus transfusi
      Semiga kita semua diberi kesehatan ya mbak

      Delete
  2. aku juga peranh transfusid arah saat operasi miom, aku gak suka krn sakit menurutku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Kalau boleh memilih dan minta sih pengennya sehat terus ya

      Delete
  3. Semoga selalu sehat mbak 😊...masih banyak orang yang tidak memaknai arti sebuah proses krn yg dilihat pasti hasil maka mahal/murah selalu dibandingkan dengan hasil akhir saja 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak
      Rasanya agak gimana gitu denger orang ngomel2 soal "beli darah"
      Khan ini gak yang ujug2 bisa dipindahin to, semua proses itu butuh biaya. Dan sejauh ini menurutku harganya masih wajar

      Doa yang sama untukmu mbak, sehat selalu yaaaaa

      Delete
  4. Saya saya lihat darah pun takut. maka maka maka... selalu deg degan kalau diajak transfusi dari dan milih kabuuuurrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha dulu aku juga gitu
      Tapi apa daya kondisi tubuh yang bolak balik sakit ini mengajak harus bersahabat dengan jarum suntik huhuhu

      Delete
  5. aku belum sama sekali donor darah xD pengen nyoba, tapi 2x coba pas ditensi, rendah terus, jadi ga bisa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga baru diterima setelah berkali2 daftar. Macam2 alasannya mulai dari BB gak cukup, tensi drop sampai karena masih menyusui hehe

      Semangat kakaaaaak
      Coba terus!

      Delete
  6. Saya juga takut liat darah. Ada trauma karena waktu kecil pernah liat hal yg mengerikan dan berdarah-darah >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalau ada trauma kayaknya berat ya
      Semoga sehat terus yaaaaaa

      Delete
  7. Panjang ternyata prosesnya ya.. Selama ini saya cuma tau "pasti darahnya diproses", tapi ga pernah tau detailnya.

    Semoga cepat pulih dan bisa kembali beraktifitas 😊

    -Tatat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panjaaaaang dan butuh waktu pastinya
      Makanya gak habis pikir sama orang yang ngomel2 tapi gak ngerti proses

      Delete
  8. Panjang yaa??kebetulan saya pernah ke PMI yg di jl. Kramat raya ambil darah buat ibu, karna persediaan di RS habis. Caranya mudah ternyata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak
      Memang sebenarnya gampang prosedurnya, asal kita mengikuti semua ketentuan yg berlaku
      Kadang orang udah mikir macam2 duluan jadinya malah ribet sendiri :)

      Delete
  9. Bener banget mbak Arni, darah tak mengenal SARA.. Moga sehat-sehat terus ya mbak...

    ReplyDelete
  10. Lekas sembuh ya mbak...
    Abis baca aku malah bayangin kalo yang donor disuruh bayar jangan2 pada ga ada yang mau donor, gratis aja pada uber2an...ada temen suami cowok katanya pas mau donor berasa hampir pingsan... Hehehe...

    Aku sendiri belum pernah donor malahan mbak, dulu kalo ga salah karna darah rendah

    ReplyDelete
  11. Aku ga bisa donor karena punya darah rendah.
    Baru sekali ngerasain diinfus pas mabuk dalam perjalanan Malang-Yogya.

    ReplyDelete
  12. waaah aku baru tau seperti apa prosesnya mbaa :).. aku tuh slalu puyeng liat darah sebenernya.. tiap kali periksa darah aja, aku usahain utk ga melihat darahku.. krn pasti kliyengan.. kalo donor darah aku blm prnh, krn ga memungkinkan... berat bdnku ga mencukupi juga soalnya :(..

    ReplyDelete