Ayah Ibu Jangan Lupa Aku adalah Representasi Dirimu

Thursday, February 16, 2017



Pernah gak sih, Ayah dan Ibu serasa ngaca saat melihat kelakuan si kecil? Caranya merajuk, ngambek, marah, menanggapi sesuatu dan seterusnya dan seterusnya.

 “Itu persis kamu banget waktu kecil!” Kata Nenek ke ayah/ibu saat melihat kelakuan cucunya yang asik lelumpatan di tempat tidur.

“Oh pantesan aja anaknya begitu,lihat saja orang tuanya kayak apa!”

“Aih anak pinteeeer.  Wajar sih, lihat saja ayah dan ibunya!”

Familiar dengan beberapa kalimat itu, Ma?

 Rasanya kita semua pasti dengar deh.  Itu baru sebagian kecil saja kelakuan bocah  yang kadang bikin saya tersenyum, terjebak atau malah jadi bengong.  Pendeknya makjleb dah. Belum lagi saat dia marah atau ngambek, dalam kasus saya,  Ayahnya sampai bolak balik senyum simpul dan melirik saya, katanya gaya cah bagus persis emaknya #tutupmuka

Masih banyak lagi kalimat-kalimat bernada serupa yang hadir dalam setiap interaksi kita sehari-hari dalam keluarga.  Dan kita, pastinya ingin mendengar kalimat bernada pujian daripada cemoohan. Iya khan?

Dari beberapa contoh itu, membuat saya sadar bahwa anak melihat dan mendengar contoh.  Merekam lalu suatu hari mengulanginya.  Ini tentu saja menjadi PR tersendiri bagi kami, orangtuanya. Bagaimana agar kelak dia bisa meniru hal-hal baik dalam perkataan dan perbuatan, bahkan dalam pikirannya.  Adalah penting memasukkan kalimat-kalimat baik untuk menambah kosakatanya.  Pun memberinya contoh agar tak salah dalam bersikap, baik kepada teman maupun kepada mereka yang lebih tua.




Ayah Ibu, Aku adalah representasi dirimu.  Jika ingin aku menjadi anak yang jujur, beri aku contoh kejujuran.  Jangan tekan aku dengan rasa takut dan kemarahan hingga aku tak berani menyuarakan kebenaran.  Ajari aku mengakui kesalahan dengan contoh dari kalian. Bahwa salah bukan hanya milik anak, tapi ada pada setiap orang.  

Ayah Ibu, Aku adalah representasi dirimu.  Ayah ibu berharap aku jadi pecinta buku dan gemar membaca? Tahukah kalian, aku hanya melihat contoh.  Kalian yang sejak pagi menggenggam HP, bukan buku.  Kalian yang setiap saat update status, kalian yang selalu tersenyum sendiri sembari menatap layar dalam genggaman itu, bercengkerama dengan om tante yang entah berada dimana. Tahukah Ayah, tahukah ibu, aku ingin sekali mendengar suara ayah ibu yang membacakan cerita pengantar tidur untukku.  Dari buku-buku menarik yang menumpuk di rak itu. Aku memang sudah bisa membaca sendiri, tapi aku jauh lebih bahagia jika mendengar suara Ayah dan Ibu yang penuh kasih ditelingaku. Aku juga ingin didampingi saat mengerjakan PR, dibimbing saat belajar menjelang ulangan.  Tanpa disambil menggenggam HP tentu saja.

Ayah Ibu, Aku adalah representasi dirimu. Katanya kalian senang melihat anak yang aktif dan kreatif.  Aku juga pengen seperti itu.  Menyusun, berkreasi membuat sesuatu dari barang-barang sederhana di sekitar kita.  Kita duduk bersama, menggunting, menempel, membuat apa saja.  Bukan sekedar menarikan jemari dilayar HP memainkan game yang hanya membuatku duduk diam, tegang, mata kadang lupa berkedip dan tak peduli keadaan sekitar.  Aku ingin mengenal aneka mainan tradisional yang katanya kalian mainkan dulu sewaktu kecil.  Yang selalu kalian bangga-banggakan itu, bernostalgia sembari bilang “generasi kita paling bahagia deh!” Ayah ibu, kalianlah yang membentuk kami menjadi generasi digital. Karena, sekali lagi, kami melihat contoh.

Ayah Ibu, Aku adalah representasi dirimu. Kami diminta untuk belajar berjiwa besar.  Melatih diri untuk meminta maaf dan memaafkan.  Menumbuhkan damai dan cinta dalam setiap interaksi kami dengan kawan, siapapun dia, darimanapun asalnya, apapun agamanya. Lagi-lagi kami butuh contoh dari kalian.  Kalau orang (yang katanya) dewasa terus menerus mempertontonkan perdebatan tiada habis hanya karena sebuah perbedaan, bagaimana kami bisa mewujudkan perdamaian kelak?

Ayah Ibu, Aku adalah representasi dirimu. Kami sedang belajar berdiplomasi saat menyahuti perkataaan Ayah dan Ibu.  Bukankah ini sama seperti yang Ayah dan Ibu lakukan saat kita membuat kesepakatan bersama? Tentang waktu belajar dan bermain, tentang tantangan untuk berbuat baik, tentang pemberian reward dan punishment dari setiap aktivitasku.  Nggak kok, kami gak bermaksud ngeyel atau mau membantah, kami hanya belajar mengeluarkan pendapat.  Bukankah Ayah dan Ibu ingin kami lebh percaya diri? 

Ayah Ibu, Aku adalah representasi dirimu.  Ya, kami anak-anak adalah peniru ulung.  Kami menonton setiap adegan kehidupan dari orang dewasa di sekitar kami.  Tolong beri kami kami tontonan yang baik dan bermanfaat, untuk bekal kami kelak di masa depan.
Selamat menjadi Ayah dan Ibu panutan.

#selfreminder
#selftalk

10 comments:

  1. Anak pertama saya itu yang sifatnya banyak miripnya ma saya. Tapi seringkali saya jadinya merenung. Mempunya kesamaan sifat ternyata belum tentu lebih mudah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru karena sama banget malah jadi terbebani kitanya ya mbak. Iya kalau yg nurun yg baik2 semua, kalau pas bagian yang justru pengen diperbaiki malah jadi melas hehe

      Delete
  2. Iya mbak bener banget...tapi kadang adakalanya ortu lupa suka bilang "siapa yang ngajarin? Aku lo ga pernah ngajarin". Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. khan kita gak ngajarin secara langsung
      Mereka itu liat contoh dan menirukannya hehe

      Delete
  3. Makjleeb bangett, anak-anak emang peniru yang ulung. sebagai ortu harus selalu bisa jaga sikap dan perilaku jangan sampai memberi contoh yg ga baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah
      Jadi gak heran ya klo emak bapake naarsis trus anaknya juga demen cekrek2 hahaha

      Delete
  4. Huaaa makasih renungn yang mendalam nan hakjleb ini ya mbaaaa

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ma camaaaaaa
      Ini juga ditulis sebagai pengingat buat diri sendiri

      Delete
  5. Mba Arni, dalem...
    Sebagai orang tua apalagi ibu, di copy gitu gantiiii yaaa mbaaa hehe... Selalu ditiru
    Pas udah ada prilaku negatif dari anak, biasanya aku jadi ngaca, terus inget2 lagi kejadian yg udah2 😹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya
      Aku juga gitu. Pas dia ngambek atau melakukan sesuatu yg gak pas, aku pertama2 mikir dulu apa aku atau ayahnha pernah begitu atau tidak

      Delete