Memilih Miskin?

Monday, January 30, 2017



Berapa banyak penduduk miskin di Indonesia? Berapa banyak orang yang katanya bahkan hidup dibawah garis kemiskinan, ya ampun....miskin aja udah cukup susah eh ini masih dibawah garis pula. Duuuuh.



 Sahabat, saya bicara tentang miskin secara fisik lho (harta) bukan miskin dalam arti kiasan (miskin hati, miskin perasaan, miskin kepedulian sosial dsb), jadi mari kerucutkan idenya biar gak melebar kemana-mana



Ya, harta memang terkadang bikin silau.  Indonesia yang katanya banyak penduduk miskinnya tapi ternyata pembelian mobil mewah keluaran terbaru se-Asia itu paling gede di Indonesia ya.  Yang katanya banyak yang busung lapar, tapi restoran mewah juga selalu penuh disaat jam makan.  Yang katanya banyak rumah di emperan tapi kok ya hotel berbintang tetap selalu penuh tamu.



Mungkin itu sebabnya, banyak yang menghalalkan segala cara buat kaya, buat dapet duit, buat hidup mewah. Ya korupsi, ya money laundry, ya nilep sana-sini, ya terima suap.  Eh ada satu lagi cara buat mendadak kaya dan ini yang mau saya bahas : MENIKAH DENGAN ORANG KAYA atau ANAK ORANG KAYA………..



Beberapa waktu lalu saya menerima undangan pernikahan seorang kawan dan saya terbelalak liat nama pendampingnya.  Saya tau si A yang akan dinikahi oleh teman saya beda umur yang sangat jauh dengannya, 22 tahun bo…….. (silahkan bayangkan betapa tuanya dia).  Dan saat kami chat group di YM, seorang teman lain iseng mengungkit soal perbedaan umur itu dan taukah kawan apa jawabnya “Gue gak cinta kale sama dia, udah tua bangka situ, Jujur aja sih, gue naksir hartanya lah, apalagi yang kurang, dia pengusaha sukses, rumah dan mobil mewah, deposito, gue udah gak ragulah udah liat sendiri bahkan udah ada yang atas nama gue, pokoknya masa depan gue terjamin” Tanpa beban dia bilang begitu? Plus embel-embel……. ”Gue gak mau miskin seumur hidup



Teman saya yang lain merajut kisah yang hampir mirip.  Dia memilih putus dengan tunangannya yang udah 5 tahun pacaran untuk menikah dengan pria lain karena si pria itu anak orang kaya dan pejabat terhormat didaerahnya.  Dan itu diakuinya terus terang.  Prinsipnya  Jadi anak orang miskin itu nasib, Jadi menantu orang miskin itu tolol. Orang dikasi kesempatan milih kok, ngapain milih miskin terus. Haha. Benar juga sih.  Meskipun ujung-ujungnya ya jodoh di tangan Tuhan.



Ah ya, banyak alasan perempuan  menikah. Diluar urusan cinta, ada juga karena urusan jaminan hidup itu, ada tempat bersandar, ada yang menopang hidup kalau bisa sekalian menopang keluarga hehehe.




Klo liat fenomena kek gitu, saya malah jadi menerawang ke masa 10 tahun lalu saat saya memilih pendamping hidup. Saat kami berdua masih sama-sama kerja, orang tua jauh satu di Bali satu di Kendari.  Memulai segalanya benar-benar dari 0 (nol).  Mulai nyicil rumah sederhana di pinggiran, mulai beli kendaraan bekas sekedar buat mondar-mandir, benar-benar membangun hidup kami berdua.  Miskinkah kami? Kami memang tidak hidup mewah, tapi cukuplah buat kebutuhan kami sehari-hari.  Kami memang tak punya kendaraan mewah, tapi bisalah tetap mondar-mandir bertemu sahabat dan sodara. Dan yang penting, kami nyaman, kami bahagia.



Satu hal yang menjadi catatan saya adalah bagaimana kami yang merangkak benar-benar dari bawah ini kemudian mendapat banyak pelajaran penting.  Mensyukuri setiap hal, sekecil apapun.  Melewati setiap cobaan yang (semoga) membuat kami naik kelas.  Dan itu rasanya jauh melampaui batas antara kaya dan miskin.  Jauh menjadikan kami lebih saling menghargai dan siap melangkah beriringan, saling mendukung satu sama lain membangun sebuah istana bernama keluarga.



Jadi kawan,  apa pilihanmu?






10 comments:

  1. Merangkak dari bawah sama suami emang co cweet ya mbak, aku dan suami jg sdng berusaha. Tapi aku jg gak putus berdoa supaya jadi org kaya Mbak haha #tetep

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merangkak dari bawah itu membuat kita lebih menghargai setiap detik yang kita lalui bersama
      Mensyukuri setiap pencapaian sekecil apapun
      Yuk semangaaaaat

      Delete
  2. Masa kecilku hidup miskin mbak, makan nasi bisa dihitung jari. seringnya makan tiwul, ampok karena itu yang murah. bila sekarang hidup berkecukupan, itu semua campur tangan Tuhan, keluargaku berusaha dan bekerja keras dari nol, ibuku merantau ke luar negeri, almaruhm bapak wiraswasta dengan modal dr ibu.
    dan saat menikah dapat pasangan yang semuanya juga memulai dari nol, membangun bersama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga begitu kok Von
      Meski gak miskin banget, tapi kami juga bukan orang kaya. Masa kecilku diisi dengan membantu ibu mencari kayu dihutan untuk kayu bakar, ikut menanam sayuran disekitar rumah agar tak perlu beli sayur. Makan telur sebutur bagi 4 dst :)

      Yuk semangat
      Harta bukan ukuran kebahagiaan, tapi kenyataan bahwa salah satu unsur bahagia adalah harta juga tak dapat dipungkiri. Selama diperoleh dengan cara yang benar dan digunakan dengan bijak, disanalah bahagianya

      Semangaaaaat

      Delete
  3. dulu saya idealis banget, menikah karena cinta pada Allah dan merintis semua dari nol, berat tapi setelah dijalani alhamdulillah bisa terlalui dengan baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta itu yang utama, karena tanpa cinta rasanya pasti hampa
      Uwooooo aku kok puitis bener ya hahaha

      Delete
  4. Makasih refleksi nya mba Arni.. So deep.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Gesi
      Tulisan ini juga untuk mengingatkan diri sendiri akan setiap detik yang terlewati bersama pasangan :)

      Delete
  5. Dalem banget, Mbak. Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga miskin, tapi alhamdulillah banget selalu berkelimpahan kasih sayang dan perhatian. Dan, untungnya lagi dapet istri yang sederhana, nggak banyak nuntut, support banget sama apa yang aku lakukan, dan itu semua sudah membuat aku bahagia. Nggak ada alasan untuk nggak bersyukur.

    Ya, harus diakui pernah sih berpikiran, "enak ya kaya si dia, kemana-mana naik mobil sekeluarga, tinggal di rumah nyaman dengan perabotan oke." Tapi hidup itu sawang-sinawang kalo kata orang Jawa. Nyatanya teman yang naik mobil ke sana-sini pernah curhat, "Aku capek bayar cicilan ini-itu."

    So, bagiku yang penting hepi apapun kondisinya. Nggak ada alasan untuk nggak bersyukur, itu prinsipnya. Nggak enak banget hidup kalo nunggu kaya dulu baru hepi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup setuju mas
      Akupun begitu, kadang sekelebat muncul rasa pengen ini itu saat melihat orang lain
      Tapi kemudian refleksi diri kembali melihat semua yang dianugrahkan kepadaku, rasanya tak ada alasan untuk tak bersyukur. Tak ada alasan untuk terus menuntut.
      Bahagia itu kita yang mencipta :)

      Delete